Hal yang Membatalkan Puasa dan Sanksinya – Dalil dan Penjelasannya

  • Whatsapp
Hal-yang-Membatalkan-Puasa-dan-Sanksinya---Dalil-dan-Penjelasannya

Hal yang membatalkan puasa telah dibahas dalam banyak kitab fiqih. Ulama telah bersepakat bahwa terdapat hal-hal yang membatalkan puasa bila hal tersebut dilakukan. Hal yang membatalkan puasa setidaknya dibagi menjadi dua kategori. Pertama adalah hal yang dapat membatalkan puasa serta wajib menggantinya atau mengqadha`nya, yang kedua hal yang dapat membatalkan puasa, wajib mengganti atau mengqadha`nya serta kafarah (denda).

Pertama : Hal yang membatalkan puasa serta wajib menggantinya (mengqadha`nya)

  1. Makan dengan sengaja
  2. Minum dengan sengaja

Bila seseorang makan atau pun minum karena lupa, tidak sengaja, atau karena dipaksa maka tidak perlu mengganti puasa tersebut dan tidak mendapatkan denda (kafarah).

Dalam sebuah hadits shahih dijelaskan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نَسِيَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

Abu Hurairah radhiallahu’anhu dari Nabi ﷺ bersabda, “Jika seseorang lupa lalu dia makan dan minum (ketika sedang berpuasa) maka hendaklah dia meneruskan puasanya karena hal itu berarti Allah telah memberinya makan dan minum”. (Bukhari No. 1797)

  1. Muntah yang disengaja.

Namun bila tidak sengaja maka tidak perlu mengganti puasa tersebut, serta tidak ada denda atau kafarah. Dalam Abu Daud no. 2032 dijelaskan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ذَرَعَهُ قَيْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنْ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ

dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang muntah tanpa disengaja ketika sedang berpuasa, maka ia tidak berkewajiban untuk mengqadha, dan apabila ia sengaja untuk muntah maka hendaknya ia mengqadha.

Al-Khattābi berpendapat bahwa ia mengetahui adanya perbedaan di kalangan ulama mengenai hal ini, dalam hal orang yang tidak sengaja muntah tidak perlu mengqadh`a atau pun yang sengaja muntah maka ia perlu mengqadha.

  1. Haidh
  2. Nifas

Bahkan bila seorang muslimah puasa namun menjelang berbuka puasa mendapati haidh maupun nifas maka batal puasanya, ini merupakan kesepakatan antar ulama.

  1. Istimna` atau onani.

Yaitu mengeluarkan air mani secara sengaja dengan alasan apa pun itu. Bisa jadi keluarnya mani dikarenakan menciumi sang istri atau karena memeluknya, atau melakukannya dengan tangan, tetap saja itu membatalkan puasa dan wajib mengqadha`nya.

Namun bila keluar mani disebabkan pandangan atau pun karena pikiran saja maka hukumnya seperti mimpi pada siang hari di saat puasa, tidak membatalkan puasa serta tidak perlu mengqadha`nya.

  1. Makan atau memasukkan sesuatu ke dalam rongga mulut.

Pintu masuknya makanan, zat dan cairan ke dalam kerongkongan ataupun perut dapat melalui beberapa bagian tubuh, semisal mulut, hidung, telinga maupun mata. Empat imam madzab bersepakat apabila ada sesuatu masuk melalui pintu tersebut baik itu makanan ataupun bukan, semisal batu kerikil kecil atau besar dan sampai pada rongga mulut, kerongkongan atau perut maka dapat membatalkan puasa.

  1. Niat buka puasa.

Niat saja bisa membatalkan puasa bila orang tersebut meniatkan buka puasa bukan pada waktu berbuka waktu adzan maghrib. Karena niat merupakan rukun puasa, maka barangsiapa yang niat berbuka puasa di siang hari maka batal puasanya.

Kedua : Hal yang membatalkan puasa, wajib menggantinya (mengqodho`nya) dan kafarah (denda)

Jima’ (berhubungan badan) pada siang hari ramadhan dalam kondisi telah berniat puasa menurut jumhur ulama hanya inilah satu-satunya pembatal puasa yang wajib mengganti (mengqadha’ serta kafarah (denda).

Dalam hadits shahih Muslim no 1870 disebutkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَلَكْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَمَا أَهْلَكَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي فِي رَمَضَانَ قَالَ هَلْ تَجِدُ مَا تُعْتِقُ رَقَبَةً قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا قَالَ ثُمَّ جَلَسَ فَأُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهِ تَمْرٌ فَقَالَ تَصَدَّقْ بِهَذَا قَالَ أَفْقَرَ مِنَّا فَمَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنَّا فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ.

dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata; Seorang laki-laki datang menghadap Nabi ﷺ dan berkata, “Celaka diriku wahai Rasulullah.” Beliau bertanya, “Apa yang telah mencelakakanmu?” Laki-laki itu menjawab, “Saya telah menggauli istriku di siang hari pada bulan Ramadan.” Beliau bertanya, “Sanggupkah kamu untuk memerdekakan budak?” Ia menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Sanggupkan kamu berpuasa dua bulan berturut-turut?” “Tidak.” jawabnya, beliau bertanya lagi, “Sanggupkah kamu memberi makan kepada enam puluh orang miskin?” Ia menjawab, “Tidak.” Abu Hurairah berkata; Kemudian laki-laki itu pun duduk, sementara Nabi ﷺ diberi satu keranjang berisi kurma. Maka beliau pun bersabda, “Bersedekahlah dengan kurma ini.” Laki-laki itu pun berkata, “Adakah orang yang lebih fakir dari kami. Karena tidak ada penduduk di sekitar sini yang lebih membutuhkannya daripada kami.” Mendengar ucapan itu, Nabi ﷺ tertawa hingga gigi taringnya terlihat. Akhirnya beliau bersabda, “Pulanglah dan berilah makan keluargamu dengannya.”

Menurut jumhur ulama, laki maupun perempuan hukumnya sama dalam hal wajib kafarah, dengan ketentuan mereka berdua sengaja melakukan hubungan (jima`) atas kehendak pilihan berdua pada siang hari Ramadhan sedang mereka telah berniat puasa pada hari itu.

Namun bila terjadi hubungan badan (jima`) dikarenakan lupa, atau bukan karena kehendak sendiri, semisal istri dipaksa oleh sang suami maka istri tidak perlu membayar kafarah, yang wajib kafarah adalah sang suami, yang memaksa istri berhubungan.

Itulah tadi 2 kategori hal yang membatalkan puasa, yang perlu sekali kaum muslimin ketahui, terlebih puasa merupakan salah satu syariat yang diperintahkan dalam Islam.

Related posts