Memahami Hukum Menuntut Ilmu dalam Islam

  • Whatsapp
Memahami Hukum Menuntut Ilmu dalam Islam

Hukum menuntut ilmu secara umum

Hukum menuntut ilmu secara umum dalam Islam adalah wajib, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ. رواه ابن ماجه – ٢٢٠

dari Anas bin Malik ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Dan orang yang meletakkan ilmu bukan pada ahlinya, seperti seorang yang mengalungkan mutiara, intan dan emas ke leher babi.”

Fudhail bin Iyadh pernah ditanya mengenai hadits di atas, beliau menjelaskan bahwa setiap dari amalan yang sifatnya wajib, maka mempelajari ilmu yang berkenaan dengan amalan wajib tersebut menjadi wajib (untuk dipelajari). Begitu juga sebaliknya, apabila amalan tersebut tidak wajib, maka hukum mempelajarinya juga tidak wajib.

Dalam Al-Qur’an pun disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 22:

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Qurthubi Rahimahullah menyebutkan mengenai ayat di atas sebagai dasar dari wajibnya seseorang menuntut ilmu. Dalam al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an beliau pun menerangkan bahwa menuntut ilmu itu mempunyai keutamaan yang sangat besar dan derajat yang mulia.

Masih banyak sekali terdapat ayat maupun hadits yang berkenaan dengan menuntut ilmu, salah satunya dari artikel 5 hadits menuntut ilmu yang ada dalam website ini.

Hukum menuntut ilmu syar’i

Menurut Syeikh Ibn Utsaimin rahimahullah hukum menuntut ilmu syar’i adalah fardh kifayah, maksudnya apabila sebagian telah melaksanakan kewajiban menuntut ilmu tersebut, maka kewajiban menuntut ilmu bagi yang lainnya menjadi sunnah. Terkadang hukum menuntut ilmu tersebut menjadi wajib ‘ain bilamana seorang mau mengamalkan suatu amalan namun belum mempunyai ilmu tersebut, maka wajib baginya mempelajari ilmu amalan tersebut terlebih dahulu, agar sesuai dengan tuntunannya.

Wajib bagi seorang penuntut ilmu lebih giat dalam mencari ilmu, bertafaquh fieddien, bersungguh-sungguh dalam mempelajari hukum-hukum Allah, wajib mengetahui apa yang diwajibkan Allah serta apa yang diharamkan-Nya.

Wajib bagi yang Allah berikan kelonggaran dalam menuntun ilmu memperhatikan masalah ini, untuk meneruskan studi, meneruskan di tingkat perguruan tinggi hingga ke tingkat spesialis, sehingga keilmuannya akan bertambah lebih sempurna, dan lebih diterima dakwahnya di kalangan masyarakat, tentunya dengan niat ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hukum menuntut ilmu di Universitas untuk mencari ijazah

Banyak dari mahasiswa terkadang bertanya dalam hatinya, apa hukum menuntut ilmu di universitas dengan niatan mencari ijazah. Syeikh Utsaimin rahimahullah dalam fatawanya (fatawapedia dot com) beliau menyebutkan, sudah diketahui bahwa mahasiswa yang belajar di universitas mereka kelak berharap bisa menempati posisi atau jabatan yang bermanfaat bagi khalayak umum, dan tidak ada jalan lain kecuali dengan cara ijazah. Seseorang dengan belajar di Universitas dengan niatan mencari ijazah, kemudian seorang tersebut menjadi guru, hakim, atau menjadi dewan penasehat maka ini adalah sesuatu yang baik, serta tidak ada yang salah dengan niatan tersebut.

Ini merupakan suatu hal yang wajar, apabila datang seorang yang berilmu ke Universitas untuk mengajar di tempat tersebut, maka apakah akan didengar atau ditaati? Tentu perkataannya tidak akan didengar atau ditaati, bilamana orang tersebut tidak mempunyai ijazah.

Kesimpulannya, hukum menuntut ilmu di Universitas dengan niatan mencari ijazah dan untuk menempati jabatan yang bermanfaat bagi masyarakat terkhusus umat Islam maka niatan tersebut adalah baik, serta tidak ada masalah dengannya. Realita dalam masyarakat pun nampak banyak sekali yang belajar di Universitas kemudian menjadi seorang guru, hakim, dewan penasehat, pengajar yang bermanfaat.

Related posts