Nabi yang Menerima Suhuf Menurut Al-Qur’an

  • Whatsapp
Nabi-yang-Menerima-Suhuf-Menurut-Al-Quran

Nabi yang menerima suhuf disebutkan dalam dua surat di Al-Qur’an Al-Karim, yang pertama di surat Al-A’la dan yang kedua di surat An-Najm.

Nabi yang Menerima Suhuf dalam Surat Al-A’la

Nabi yang menerima suhuf menurut Al-Qur’an Al-Karim sesuai dengan surat Al-A’la

إِنَّ هَٰذَا لَفِى ٱلصُّحُفِ ٱلْأُولَىصُحُفِ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ  

Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu – (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.

Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan dalam tafsir Juz Ammanya menjelaskan tentang kedua ayat ini, berikut penjelasannya :

إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى (18) صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى (19) ” Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu,. (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” إِنَّ هَذَا “sesungguhnya ini” Maknanya: Apa-apa yang disebutkan tentang manusia bahwa ia lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada akhirat, dan melupakan akhirat, dan juga apa-apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini berupa pelajaran-pelajaran لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى ” benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu,.” Maknanya: yang terdahulu sebelum umat ini صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى ” Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” Yaitu lembaran-lembaran yang dibawa oleh Ibrahim dan Musa ‘alaihimassholaatu wassalaam, di dalamnya terdapat peringatan peringatan yang dapat melembutkan hati, dan memperbaiki keadaan-keadaan, Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang diberikan kebaikan dunia dan kebaikan di akhirat, dan yang dilindungi dari siksa api neraka, sesungguhnya Dia Maha Pemberi lagi Maha Dermawan.

Nabi yang Menerima Suhuf dalam Surat An-Najm

Nabi yang menerima suhuf pun disebutkan dalam surat yang lain, yaitu surat An-Najm ayat 36 – 38, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِى صُحُفِ مُوسَىٰوَإِبْرَٰهِيمَ ٱلَّذِى وَفَّىٰٓأَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? – dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? – (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.

Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I dalam bukunya Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an menerangkan ayat yang ke 36-37 bahwa Ingkar dan kikir merupakan sifat tercela dan dia telah mendapat tuntunan untuk menghindarinya. Apakah dia memang ingkar ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran kitab suci yang diwahyukan kepada nabi musa’ dan apakah dia juga mengingkari tuntunan wahyu yang terdapat pada lembaran-lembaran yang diwahyukan kepada nabi ibrahim yang selalu menyempurnakan janji kepada Allah.

Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menambahkan bahwa Allah menjelaskan apa isi dari lembaran-lembaran itu : Ketahuilah bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya manusia kecuali akan dibalas atas usaha dan amalannya; Maka anak-anaknya dan amalan-amalan, serta lain-lainnya termasuk dari usahanya.

Syeikh Ibn Utsaimin menerangkan perihal Nabi dalam Al-Qur’an, setiap dari nabi yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah seorang Rasul, menurut Beliau para ulama menyebutkan bahwasanya nabi adalah seorang yang diberi wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa syariat namun tidak wajib untuk mendakwahkan syariat tersebut, tetapi sebagai panduan untuk beribadah, untuk menghidupkan syariat yang sebelumnya telah diturunkan ataupun memperbaharui syariat yang lama.

Wahyu yang diturunkan pada Nabi itu merupakan tanda kenabian bukan kerasulan, semisal Nabi Adam ‘Alaihi wa Sallam adalah seorang Nabi bukan Rasul, wahyu yang diturunkan kepadanya bukan untuk memperbaharui syariat sebelumnya, namun wahyu turun sebagai tuntunan bagi dirinya untuk beribadah pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang kemudian diikuti oleh anak keturunannya. Tatkala bertambahnya penduduk dan muncul pertikaian maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para Nabi untuk mengarahkan masyarakat, memberi peringatan dan kabar baik, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan pada mereka kitab.

Kesimpulan

Rasul yang pertama diutus adalah Nabi Nuh ‘Alaihi Salam, diberikan padanya kitab. Sedang Rasul dan Nabi yang terakhir adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Setiap dari Rasul yang diutus diberikan padanya kitab, namun kita tidak mengetahui kitab-kitab yang turun sebelumnya (Al-Qur’an) kecuali hanyalah Taurat Nabi Musa, Injil Nabi Isa, Zabur Nabi Daud, Suhuh Ibrahim, Suhuh Musa. Ulama berbeda pendapat apakah suhuf Musa itu yang dimaksud adalah Taurat atau selainnya, Wallahu A’lam bisshowab.

Related posts